Menemukan Makna Kepemimpinan: Dari
Organisasi ke Kehidupan
Gaudencia Seraphine Ongko
Belajar tidak hanya dilakukan di dalam kelas, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, termasuk
dalam berorganisasi. Salah satu pelajaran yang sangat berharga adalah belajar untuk gagal dan
bangkit lagi.

Saat saya kelas 7, saya pertama kali bergabung dalam OSIS. Awalnya, saya hanya ingin mencoba
hal baru dan berkenalan dengan lebih banyak teman. Dari pengalaman itu, saya belajar banyak
hal, mulai dari cara berkomunikasi, bekerja sama, hingga membangun kepercayaan diri.
Tidak hanya berhenti di sana, saya kemudian bergabung dengan keluarga Leo Clubs Stema
Chevaliers. Salah satu momen yang berkesan adalah ketika saya memimpin workshop bersama
Shopee Indonesia untuk mendukung UMKM dalam dunia online shop. Dari sini, jiwa sosial saya
semakin tumbuh dan saya ingin berkontribusi lebih besar.
Keinginan itu membawa saya menjadi Presiden Leo Club. Tantangan terbesar yang saya hadapi
adalah belajar untuk mendelegasikan tugas. Banyak orang berpikir lebih cepat jika dikerjakan
sendiri, namun kenyataannya justru membuat kita cepat lelah. Saya belajar bahwa setiap anggota
hadir bukan hanya untuk melihat, tetapi juga untuk berkontribusi. Sebagai pemimpin, tugas kita
adalah memberi kesempatan itu.
Pengalaman berikutnya datang ketika saya dipercaya menjadi Wakil Presiden Distrik 307 A1,
membawahi lebih dari 10 klub dan 600 anggota. Dari presiden saya waktu itu, Natasha, saya
belajar bahwa kegagalan adalah hak setiap orang. Pemimpin bukanlah sosok yang mengerjakan
segalanya, melainkan yang membimbing dan membina.
Hal ini mengubah cara pandang saya terhadap kepemimpinan: bukan soal mengontrol, tapi soal
memberdayakan. Bukan soal hasil semata, melainkan soal proses yang membentuk kita dan tim
menjadi lebih kuat.
Pada tahun ajaran 2024–2025, saya bersama teman saya, Elvan, maju sebagai kandidat Ketua
dan Wakil OSIS. Puji Tuhan, kami terpilih. Tahun itu menjadi pengalaman yang penuh suka
duka.
Dari OSIS, saya belajar betapa pentingnya komunikasi dan kepercayaan. Saya menyadari bahwa
percaya pada anggota adalah kunci pertumbuhan tim. Salah satu contoh nyata adalah ketika
seorang anggota kelas 7 yang awalnya belum mengerti bagaimana membuat acara, akhirnya
mampu memimpin Classmeeting di Stella Maris School Gading Serpongdengan penuh percaya
diri. Melihat perjalanannya membuat saya bangga dapat menjadi bagian dari proses tersebut.
Menjadi pemimpin bukan hanya soal melayani orang lain, tetapi juga tentang membangun diri
sendiri. Kita belajar cara berdelegasi, membimbing, dan mempercayai orang lain. Pemimpin
yang baik bukanlah yang paling kuat secara individu, tetapi yang mampu menciptakan tim yang
solid dan suportif.
Bagi siapa pun yang ingin mencoba menjadi pemimpin, jangan ragu untuk memulai. Tidak ada
pemimpin yang lahir sempurna. Justru, melalui proses gagal, belajar, dan bangkit, kalian akan
menemukan makna sejati dari kepemimpinan.
Kepemimpinan adalah perjalanan, bukan tujuan.
Become a future entrepreneur! Let’s join Stella Maris School Gading Serpong


